fhc
Funny Quotes
If it's true that girls are inclined to marry men like their fathers, it is understandable why so many mothers cry so much at weddings.
OUR PARTNERS
Modal Versus Mental
istimewa
istimewa

Demam membuka usaha sendiri atau menjadi investor sudah melanda hampir seluruh masyarakat Indonesia saat ini. Buku Rich Dad Poor Dad, karangan Robert T. Kiyosaki benar-benar memberikan pengaruh yang sangat luar biasa terutama terhadap pola pikir masyarakat Indonesia yang masih terpaku pada paradigma lama dalam mencari dan mengelola uang.

Pola lama mengatakan bahwa untuk meraih keberhasilan dalam hidup seseorang harus sekolah untuk meraih gelar setinggi mungkin, bekerja serta berkarir di perusahaan yang besar, kerja keras siang malam, dan jangan lupa untuk selalu rajin menabung supaya cepat kaya dan terjamin pada hari tua. Demam tersebut lebih dikenal oleh masyarakat awam dengan nama Finacial Freedom.

Kiyosaki merupakan seorang investor dan sekaligus pengusaha yang sukses dalam bidangnya. Ia seorang yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Pada dasarnya, ia mengajak orang untuk berpikir lebih banyak secara lateral daripada secara linear dalam memandang bentuk pekerjaan dan sumber mata pencaharian kita dalam perspektif lain yang lebih luas.

Ia mengajak kita untuk segera keluar dari dalam kotak (penjara pikiran) kita untuk segera mencapai suatu kebebasan pikiran. Kita diajak untuk mengubah pola pikir dan cara pandang kita terhadap uang. Untuk mendapatkan uang yang lebih banyak lagi, biasanya kita berpikir untuk menjadi seorang pengusaha tulen selain menjadi investor, tetapi dengan catatan bahwa kita harus memiliki modal yang cukup yaitu dengan memiliki sejumlah uang yang banyak sebagai modal awal usaha.

Ironis, untuk mendapatkan uang banyak kita harus mendapatkan dulu uang yang banyak pula untuk dijadikan modal awal. Pertanyaan yang harus dijawab adalah kapan kita mendapatkan uang sebagai modal awal untuk mendapatkan uang yang lebih banyak lagi? Pertanyaan paradoksial inilah yang hendak dijawab tuntas oleh Kiyosaki.

Menurut Kiyosaki, pertanyaan ini dapat dijawab dengan metode investasi keuangan. Investasi yang dilakukan tidak harus selalu besar tetapi kecil-kecilan saja. Dimulai dari memindahkan uang tabungan di bank lalu ikut reksadana dengan tingkat bunga lebih tinggi dari deposito. Investasi lainnya dapat berupa investasi langsung di bursa saham atau valas dimana keuntungan yang didapat bisa langsung segera dinikmati dengan hasil yang jauh lebih besar lagi daripada di reksadana. Properti juga dapat menjadi lahan investasi yang menarik dan paling menjanjikan saat ini.

Bentuk investasi yang tak kalah menariknya adalah ikut dalam usaha multi-level marketing (MLM) dimana modal awal yang dibutuhkan dalam bentuk uang sangat kecil dan memiliki resiko yang juga kecil, tetapi menjanjikan hasil yang tak kalah hebat dengan bentuk investasi lainnya. Selain itu, pilihan untuk menjadi pengusaha kecil atau membuka usaha dalam kategori UKM juga merupakan suatu investasi yang menjanjikan hasil yang juga lumayan dengan tingkat resiko yang moderat dan modal yang juga tak terlalu besar.

Dengan hanya memiliki modal awal yang kecil dan sejumlah pengetahuan tentang manajemen keuangan dan investasi yang lumayan, masyarakat biasa sudah dapat memiliki penghasilan sendiri yang lumayan bahkan tak kalah banyaknya dengan gaji seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan multi nasional. Dimana setiap uang yang ditanamkan dalam suatu investasi, akan berkembang dan hasilnya akan ditanam kembali dan diharapkan memberikan hasil yang lebih besar lagi demikian seterusnya.

Bahkan seseorang tidak perlu harus menunggu pensiun atau melepaskan pekerjaan tetapnya yang sedang dijalani sekarang untuk melakukan investasi. Semuanya bisa dilakukan secara bersamaan, dimana pendapatan yang berasal dari investasi tersebut seringkali dikenal dengan nama passive income. Disebut pasif karena kita tidak perlu melakukan kerja fisik yang berlebihan dan menghabiskan waktu seharian ketika melakukan investasi itu seperti layaknya seorang pegawai atau pengusaha yang bekerja setiap hari dari pagi hingga malam.

Kiyosaki memang telah memberikan suatu bentuk paradigma baru dalam dunia usaha dan investasi kepada masyarakat awam. Tetapi sayang, Kiyosaki melupakan faktor mental usaha yang merupakan faktor penentu keberhasilan dari seorang investor dan pengusaha.

Kiyosaki terlalu asyik dengan membentuk paradigma passive income serta terlalu menekankan pada sisi baiknya secara berlebihan. Bahwa konsep pensiun dini, pendapatan besar setiap bulan tanpa kerja keras dan sebagainya telah membuai banyak masyarakat awam. Tidak dapat dihindari lagi dampak negatif yang paling dapat dilihat kasat mata adalah munculnya segala macam bentuk penipuan yang berkedok MLM atau investasi fiktif.

Hal ini dapat muncul karena faktor mental kurang diperhitungkan dalam konsep passive income. Bahwa orang ingin mendapatkan uang banyak tanpa harus mengorbankan banyak waktu, tenaga dan uang yang banyak sangatlah normal dan manusiawi. Hal lainnya yang disebut dengan resiko juga harus dilihat secara bijak karena merupakan bagian dari suatu hasil pilihan yang dilakukan oleh manusia. Bukan besar kecilnya resiko usaha yang menjadi masalah tetapi sikap dan pola pikir kita ketika dalam menerima dan menghadapi resiko.

Proses pengembangan diri dan kedewasaan mental jauh lebih penting daripada paradigma financial freedom itu sendiri. Tanpa diperlengkapi dengan mental baja, seseorang akan cepat merasa lelah berjuang dalam hidupnya atau ketika berusaha dalam suatu investasi atau bisnis tertentu sehingga apabila ia menghadapi suatu kegagalan kecil ia akan segera menyerah dan frustasi. Ia akan segera menyalahkan Kiyosaki bahwa ia hanyalah seorang pembual.

Bahkan apabila ia mengalami suatu kebangkrutan ia akan segera menjadi hilang ingatan atau seperti saat ini yang sering terjadi yaitu bunuh diri. Jadi bukan kebangkrutan yang bahaya sebagai resiko, tetapi sikap kita dalam menghadapi kegagalan atau kebangkrutan, itu yang penting.

Memang, modal uang, waktu, tenaga, kemampuan usaha, pengetahuan tentang bisnis dan manajemen serta intuisi yang kuat saja tidaklah cukup. Apalagi motivasi kita dalam berusaha bukan hendak berkarya dan mencari kebahagiaan semata tetapi lebih banyak didominasi oleh rasa malas dan serakah saja, jika demikian bersiaplah untuk menghadapi musibah dan merasakan pahitnya dunia usaha. Hindarilah prilaku ingin cepat kaya dengan jalan pintas, tetapi persiapkanlah diri sebaik mungkin untuk menjadi kaya dan sukses secara sehat.

Rafael Antonius
Rafael Antonius
Presiden Direktur Oktosel Production
Dosen Fakultas Ekonomi Unika Atmajaya Jakarta
read this
x
Konsultasi Psikologi
OktoTips
Okto Radio
101.0 Jak FM
101.0 Jak FM
98.7 Gen FM
98.7 Gen FM
Do You Know ?
The ice that covers 98% of Antarctica holds 90% of the worlds fresh water.