Dalam memperingati Hari Wanita Internasional di tanggal 8 Maret 2012 mendatang, Oktomagazine mempersembahkan catatan yang berkaitan dengan perempuan dan apa yang telah dilakukan bagi keluarganya hingga bagi dunia. Terjun dan menekuni sebuah bidang pekerjaan, memadukan banyak fungsinya sebagai seorang ibu, istri, professional dan sebagai seorang perempuan.
Menjadi orang tua tunggal memang lebih banyak dipengaruhi oleh unsur keterpakasaan. Bukan pilihan. Banyak persoalan yang harus dihadapi oleh orang tua tunggal, khususnya perempuan. Tekanan dari berbagai sudut, dari budaya, lingkungan, keluarga besar, bahkan anak-anaknya sendiri. Hal tersebut belum ditambah jika sebelumnya tanggungan ekonomi ditanggung suami, begitu menjadi orang tua tunggal harus menanggungnya sendiri.
Tetapi seberat apapun beban tersebut, hampir tidak ada perempuan yang meninggalkan tanggung jawab tersebut. berat beban yang harus dipukul, tidak pernah dirasakan. Sakit dari sakitnya sakit sudah pernah dialami saat melahirkan anak-anaknya, bahkan nyawa turut dipertaruhkannya.
Berikut ini adalah perempuan-perempuan yang telah membuktikan bahwa menjadi orangtua adalah berhadapan dengan kenyataan, dan melaluinya. Nisma, Nafisah Ahmad Zen Shahab, Mulia Karuseng, merupakan 3 perempuan yang sukses menjadi orang tua tunggal. Sedangkan Suciwati, istri mendiang pejuang Hak Asasi Manusia Munir, kini sedang memperjuangkan kesuksesannya
Nisma (71)
Adalah seorang ibu yang harus menjanda di usia 38 tahun. Suaminya, Ramli Rangkuti, meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di tahun 1978. Ramli meninggalkan warisan pesangon senilai Rp.4,5 juta dan 7 orang anak. Anak paling besar berusia 17 tahun dan yang bungsu masih berumur 18 bulan.
“Saya sempet putus asa, sampai kemudian paman saya menasihati saya agar kuat dan tabah demi anak-anak,” ujar Nisma saat tampil di Kick Andy episode ‘Semua Demi Anakku’ pada 28 Mei 2010.
Nisma kemudian berjualan keliling dengan modal kepercayaan dari pedagang batik di Medan. Perempuan yang hanya lulusan SMP ini bertekad, agar semua anaknya bisa sekolah lebih dari pendidikannya. Dengan menjajakan kain Nisma melaksanakan tekadnya tersebut. Dan sekarang
lima dari tujuh anaknya sudah menjadi sarjana, dua anak lulus SMK, semuanya sudah bekerja. “Sekarang malah Mama saya, adalah ibu yang paling bahagia,” ujar Ratna Mardianti, putri ke-4 Nisma.
Nafisah Ahmad Zen Shahab (63)
Nafisah memiliki warisan 12 anak dari mendiang suaminya, Alwi Idrus Shahab. Sejak suaminya meninggal, ia harus mengubah profesinya menjadi pedagang, meneruskan usaha suaminya. Dia meneruskan amanat suaminya untuk menjadikan anak-anaknya sebagai dokter. Dan kini dari 12 anaknya, 10 orang sudah menjadi dokter, satu Sarjana Kimia, dan 1 lainnya lulus SKP.
Mulia Karuseng(67)
Nara sumber Kick Andy kali orang tua tunggal yang memiliki warisan anak terbanyak ,15 orang. Saat suaminya, As’ad Kamaludin , meninggal anak paling kecil masih berusia 3 tahun.
“Saya membesarkan anak-anak saya dengan modal nekat,” kata perempuan yang belajar berdagang dengan meneruskan usaha suaminya. Perempuan yang tidak lulus SMP ini juga selalu menanamkan pesan-pesan tentang kejujuran, kesabaran, dan kedisplinan pada anak-anaknya. Tidak heran jika sekarang lima anaknya sudah menjadi dokter, tujuh anak bergelar Insinyur, dua sarjana Ekonomi dan satu putranya lulusan Akademi Angkatan Laut.
Suciwati
Perempuan yang berada di baris terdepan untuk mengungkap dalang dan mencari keadilan atas kematian mendadak Munir, pendiri Kontras. Sebagai orang tua tunggal, Suciwati harus membagi waktunya antara mencari nafkah, mengasuh anak dan melakukan kampanye untuk kasus Munir.
Hidup dalam teror tidak menyurutkan niatnya untuk terus mencari kebenaran. Berbagai penghargaan yang diterimanya seperti Human Rights First, Woman of The Year 2006, dan Majalah Time Asia yang menobatkannya sebagai Asian Hero Award, tidak membuatnya berhenti untuk berjuang demi Soultan Alif Allende dan Diva Suu Kyi Larasati anaknya dan cahayanya yang tidak pernah padam, Munir.
(kickandy.com/time.com/felly@oktomagazine.com)