Baru sekarang saya mampu menulis catatan ini. Blora yang tak mungkin saya lupakan. Blora sangat berjasa mendidik saya. Ada Bu Yayuk, ada Cholik, Mbah Mo, Irfan, para mahaguru yang sangat luar biasa. Tiga bulan mereka mendidik saya, namun memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk bisa ngeh. Itupun masih menyisakan banyak bab yang tetap belum saya mengerti.
Saya datang ke kampung mereka bersama tim CC. Tempat itu bernama Wireskat – kampung para mantan penyandang kusta. Pemukiman terletak cukup jauh dari kota Blora. Di sebuah bukit kapur yang panas, kami (tim CC) tinggal bersama mereka. (Cholik mengajari saya untuk menyebut “panasnya seperti Mekkah”, bukan “panas seperti neraka”)
Kami menempati sebuah warung bambu yang tidak terpakai. Setiap hari kami melakukan kegiatan pelatihan karakter. Sampai pada suatu siang yang terik, ketika kami libur, saya mendengar nyanyian indah dari kebun yang gersang. Saya menengok. Di panas matahari terlihat Irfan sedang mencangkuli tanah keras, sambil menyanyi. Suaranya indah, sangat kontras dengan lingkungan sekitar.
Tetapi tak mungkin Irfan ikut program IMB (Indonesia Mencari Bakat) ataupun Indonesian Idol. Wajah Irfan rusak oleh penyakit kusta yang pernah dideritanya. Kaki dan tangannya juga tak sempurna.
Sore hari Irfan bertandang ke gubug kami. Ia tetap ceria, seperti tadi siang. Sesekali ia sibuk sms dengan pacar ‘virtual’ nya. Irfan memang punya pacar. Pacarnya adalah gadis penjaga toko yang sering mendapat kiriman pulsa darinya. Irfan bisa memandangi ‘pacarnya’, tetapi sang pacar tidak pernah melihat wajah Irfan. “Kalau dia tahu wajahku, dia akan ketakutan”, begitu kata Irfan.
Dulu, sebulan terakhir sebelum ditampung di Wireskat, Irfan disekap di kandang ternak oleh keluarganya. Para tetangga yang salah kaprah menuduh dia dikutuk Tuhan. Masyarakat kampung yang sederhana memfitnah Tuhan. Tuhan dituduh jahat dan pendendam. Setelah di Wireskat, tidak ada seorang pun mengunjunginya. Irfan adalah no body’s child.
Di kampung itu, Irfan jarang bepergian. Para penumpang kendaraan umum berkeberatan berbagi jok dengannya. Para pemilik warung tidak mau menjual makanan pada orang cacat seperti dia.Tetapi tidak ada dendam di mata Irfan. Tidak ada sakit hati. Ia mengisi hari-hari bahagianya dengan mencangkul. Ia bekerja!
Anda pasti pernah melihat orang berbalut perban yang ndhoprok di lampu merah. Di depan mereka terdapat kaleng penampung uang. Mereka hanya mengucapkan satu kata berulang-ulang, “Mas....” Menurut Irfan, penghasilan dari belas kasihan pengguna jalan itu tidak sedikit. Dalam hitungan bulan mereka bisa membeli motor dan bahkan punya rumah.
Irfan tak sudi menurunkan harga diri “Kalau aku mau menambang emas di perempatan, aku akan cepat kaya. Tapi aku nggak mau,” Ia tidak memilih untuk meminta-minta.
Selama di Wireskat saya juga hidup bersama Bu Yayuk yang setiap pagi dan sore menyapu halaman, tempat kami berkegiatan. Bu Yayuk, perempuan sederhana yang bersuamikan penderita kusta itu, selalu berdandan rapi dan bergincu menyambut hari. Saya merinding menyaksikan dia bergurau dengan suaminya yang fisiknya ‘mengerikan’.
Tiga bulan bersama mereka adalah pelajaran yang sangat sulit saya pahami. Apa maksud Tuhan menciptakan orang-orang semacam mereka? Bagaimana Tuhan memberi mereka iman? Saya tahu sendiri, mereka baik-baik saja, tidak mengeluh.
Bagi Irfan, hidup adalah mencangkul dan bernyanyi, tanpa ditengok keluarga dan tanpa sedikitpun gambaran masa depan.
Semua laku tidak didesain untuk berakhir, apalagi berakhir segera. Nglakoni adalah mengerjakan apa saja yang tampak sepele, bahkan terlihat sia-sia. Nglakoni bisa berupa bertahan ketika dipaksa untuk diam. Demi sebuah sikap dan makna. Tanpa hari lebaran dan tanpa surga. Nglakoni adalah tidak menyerah sampai akhir, entah kapan dan macam apa akhiran itu. Ia tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan keadaan, dan terutama tidak menyalahkan diri sendiri dan Tuhan.
Suatu sore saya menerima telepon. Di seberang, seorang teman mengatakan, “Aku barusan bersafari mengajarkan iman kepada para penyandang kusta.” Wow, alangkah saktinya teman saya itu, saya baru saja bertekuk lutut melihat iman para penderita kusta, teman saya justru berbangga telah mengajari mereka.
Ketika saya masih SMP, saya punya teman yang mengatakan, “Kalau sampai umur 40 tahun aku belum kaya, aku akan merampok”. Hari ini teman saya itu sudah menjadi pejabat PNS yang kaya.
Saya juga mendengar doa-doa lucu. ‘Tuhan, beri saya jodoh yang bahenol, sebagai ongkos sebagai mak comblang, saya akan rajin sembahyang ’ – tapi saya malas bekerja dan tidak mau keluar rumah. ‘Tuhan, jauhkan kami dari cobaan’, tapi aku tetap korupsi. ‘Tuhan, saya minta lulus cum laude’, tapi malas belajar.
“Kalau nanti saya tidak lulus, kalau saya ketangkap KPK dan dihukum, saya akan cepat-cepat jumpa pers untuk menyalahkan Tuhan. Ini cobaan dari Tuhan!”
Siapa yang benar? Irfan, Bu Yayuk, atau orang yang menghakimi Tuhan? Mbuh wis, gak jelas! Yuk kita ambil kesimpulan spekulatif aja, orang berintegritas itu tidak mau mengambil jalan pintas. Hehehe...