Jangan memukul anjing Anda, kalau bukan untuk tujuan bermain – dan pastikan bahwa si anjing tahu benar bahwa Anda mengajaknya main pukul-pulan, bukan marah. Untuk menerapkan disiplin, pelatih tidak dibenarkan memukul anjing. Anjing memang tidak boleh dan tidak perlu dipukul, bahkan tidak boleh dibiasakan dibentak.
Di dunia anjing, terdapat ‘konvensi universal’, ‘etika’, ‘tradisi mendidik’ dan memberikan peringatan. Ketika seekor anjing yang lagi makan terusik oleh anjing lain yang lebih kecil, dia cukup menggeram, mengeluarkan bunyi peringatan. Nada suara yang disertai ekspresi khas itu secara universal dipahami oleh setiap anjing - bahkan setiap binatang. Pelajaran awal itu segera diikuti oleh setiap anjing sejak kanak-kanak.
Para pelatih (mungkin lebih tepat disebut pendidik?) menggunakan tradisi itu untuk mendidik anjingnya. Pelatih selalu mendidik dan mendisiplinkan anjing dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Anjing akan dengan senang dan sengaja menyenangkan tuannya, menuruti kemampuan ‘pemimpinnya’, bahkan setia sampai mati.
Pelatih yang menerapkan disiplin melalui bentakan dan kekerasan akan menuai masalah. Anjing akan melawan, bingung, sulit mengikuti perintah, bandel, stres, penakut, dan punya kecenderungan menyerang tanpa kontrol. Maka, kalau ada seekor anjing piaraan sampai menggigit orang yang bukan penjahat, yang salah adalah gurunya. Anjing menggigit sembarangan karena salah asuhan, salah didik.
Bagaimana dengan pendidikan bagi anak manusia? Tentu pendidikan untuk manusia menggunakan cara yang lebih baik, lebih lembut. Anak didik juga tidak dipukul dan dibentak. Bahkan karena manusia dianugerahi akal budi, lebih cerdas dan memiliki perasaan yang lebih peka, ‘geraman’ bisa dilakukan sama sekali tanpa suara, cukup menggunakan lambang-lambang yang indah.
Ilmu pengetahuan menjelaskan bahwa serotonin (neurotransmitter, zat kimia di dalam tubuh yang membantu sinyal syaraf berjalan) antara lain berfungsi ikut menimbulkan dorongan bagi sistem limbik untuk meningkatkan perasaan seseorang terhadap rasa nyaman, menciptakan rasa bahagia, rasa puas, perasaan, koordinasi dan penilaian. Pendek kata, serotonin sangat berguna untuk belajar.
Ilmu pengetahuan juga membuktikan bahwa ketika seseorang mengalami kesedihan - yang dapat dipengaruhi oleh pihak luar – secara otomatis serotonin di dalam otak berkurang. Akibatnya daya belajar juga berkurang. Bentakan, makian, kata-kata keras-kasar, atau bahkan pukulan dan tendangan, efektif untuk menimbulkan kesedihan. Kesedihan ini menyebabkan berkurangnya serotonin di dalam otak, dan menghambat pembelajaran.
Sebaliknya, musik, film, dan kata-kata indah menambah serotonin di dalam otak. Maka, hal-hal menyenangkan berguna untuk belajar.
Masaru Emoto mempublikasi foto yang membuktikan bahwa kristal air bereaksi nyaris sama pada kata ‘kosmos’ yang ditulis dalam bahasa Jepang, Inggris, dan Jerman. Tulisan itu sangat berbeda bentuknya. Tetapi rupanya perasaan manusia yang menuliskan kata ‘kosmos’ itu ditangkap sama oleh kristal air.
Masaru juga membuktikan bahwa kata-kata negatif merusak bentuk Kristal air, dan kata-kata positif membuat kistal menjadi indah. Padahal lebih dari 70% tubuh manusia terdiri dari air – yang kristalnya dapat dipengaruhi oleh pengaruh dari luar.
Di lain pihak, Albert Mehrabian, psikolog, menemukan bahwa sebuah pesan – kepada manusia – tersampaikan 55% oleh tindakan, 38% oleh nada suara, dan 7% oleh kata-kata. Tindakan mengirim pesan paling efektif. Mungkin kita semua punya pengalaman yang sama: tindakan jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan.
Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa cara mendidik - manusia maupun anjing - yang efektif adalah yang tanpa kekerasan, dan lebih efektif lagi bila melalui tindakan – berupa kasih sayang dan keteladanan yang baik (walau untuk itu mungkin jadi ribet, kurang efisien).
Pembinaan para Nara Pidana (sekarang disebut Warga Binaan) dengan cara dibentak, ditendang, dipalak, diperas, dijahati, niscaya kurang efektif. Bisa dipahami bahwa hari ini, penjara (yang diganti namanya menjadi Lembaga Pemasyarakatan) masih gagal menjadi sekolah bermasyarakat. Sebaliknya, penjara justru disebut sebagai tempat belajar para penjahat teri untuk promosi menjadi penjahat kakap - yang lebih kejam dan tak mudah ditangkap.
Di sasana tinju dan tangsi militer, murid dididik (dilatih?) dengan cara kekerasan. Penerapan itu masih punya alasan. Petinju perlu membiasakan diri untuk menerima pukulan. Profesi petinju memang mengharuskan dia memukul dan dipukul. Profesi militer meniscayakan kekerasan yang lebih kejam, membunuh dan dibunuh. Maka selama latihan cukup layak kalau ‘sekedar’ ditempeleng dan ditendang.
Apakah ‘anak binaan’ yaitu murid sekolah, dididik dengan disiplin kasih sayang seperti pendidikan untuk seekor anjing, atau bahkan lebih baik? Jawabnya, sebagian sudah. Sebagian lagi belum.
Sebagian besar sekolah di Indonesia mendidik dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Tapi sebagian lagi masih memuja cara-cara yang diterapkan di sasana tinju dan tangsi militer. Beberapa sekolah masih menirukan pakaian, sikap, peraturan, penerapan hukuman, dan disiplin militer.
Nampaknya kita harus segera menyelenggarakan pendidikan dengan lebih baik, sebelum kata ‘disiplin’ terlanjur direduksi hanya sekedar sebagai ‘disiplin militer’.
Tapi sekali lagi, asumsinya saya keliru. Maka saya harus mendengarkan.