Matcha adalah teh hijau berbentuk bubuk. Dihasilkan dari teh hijau yang digiling hingga halus menyerupai tepung. Selain diminum pada upacara minum teh di Jepang, matcha digunakan sebagai bahan perisa dan pewarna untuk berbagai jenis makanan, seperti mocha, roll cake, ice cream, cokelat. Matcha saat ini telah mendunia dan dipakai di dunia bakery dan pastry di Asia bahkan menembus eropa.
Tapi tahukah Anda bahwa matcha bukan sepenuhnya temuan di Jepang. Kebiasaan minum teh dimulai di Tiongkok pada zaman Dinasti Tang, namun baru menjadi populer pada zaman Dinasti Song. Pada zaman Heian, orang Jepang hanya mengenal Dancha (teh dalam bentuk bulatan seperti bola). Matcha diperkirakan pertama kali dibuat di Tiongkok pada abad ke-10. Orang Jepang mengenal matcha sejak abad ke-12 setelah matcha dibawa ke Jepang oleh pendeta Zen aliran Rinzai bernama Eisai.
Selain warnanya yang menarik, hijau muda, Matcha juga memiliki cita rasa yang unik. Aroma yang kuat seiring dengan rasa teh yang kuat, merupakan salah satu padanan dalam membuat berbagai jenis masakan dan makanan. Dalam takaran yang tepat matcha bisa memberikan sentuhan baru terhadap makanan dan minuman, baik dari sisi kualitas juga estetika ktika makanan atau minuman disajikan.
Budaya minum teh di Jepang
Kebudayaan Jepang sangat menghargai keberadaan teh, hingga ada satu upacara khusus. Ada dua jenis minuman teh dari matcha, koicha (teh kental) dan usucha (o-usu atau teh encer). Keduanya berbeda dalam kadar kekentalan, dan cara meminum. Teh jenis koicha dan usucha keduanya disajikan dalam upacara minum teh yang sangat formal.
Matcha kualitas terbaik memiliki rasa lebih manis dan tidak terlalu pahit. Minuman koicha hanya dibuat dari matcha kualitas terbaik yang harganya mahal, tapi matcha tersebut bisa juga dipakai untuk membuat usucha. Alat pengocok yang disebut chasen digunakan untuk melarutkan matcha, atau mengocoknya hingga berbusa sewaktu membuat usucha.
Semangkuk koicha dibuat untuk diminum bersama oleh tamu yang hadir secara bergiliran. Seorang tamu hanya boleh meminum teh yang menjadi bagiannya, dan menyisakan selebihnya untuk tamu yang lain. Tamu yang mendapat giliran terakhir untuk minum diharuskan menghabiskan teh yang tersisa di dalam mangkuk.
Sewaktu membuat koicha, takaran matcha adalah 3 chashaku (sendok kecil dari bambu) untuk satu orang. Bila ada 4 orang tamu, maka takaran matcha untuk semangkuk koicha adalah 12 chashaku. Kue tradisional Jepang, Wagashi, yang disajikan bersama koicha adalah kue namagashi .
(wikipedia.org/ ratna.wina@oktomagazine.com )