Siang itu Jakarta memang kurang bersahabat. Matahari memancarkan panas yang agak berlebihan. Cahayanya yang memantul dari gedung APL, di kawasan Central Park sebelah barat Jakarta, makin menambah panas.
Suasana mulai berubah ketika Oktomagazine memasuki gedung. Dan perubahan semakin drastis ketika berada di dalam kantor El Jhon Pageants di lantai 16. Suasana makin nyaman ketika datang sebuah senyum dari seorang perempuan yang cukup tinggi untuk ukuran Indonesia, mengulurkan tangannya, dan memperkenalkan diri. Cut Nadirasari, Runer Up I Putri Pariwisata 2008.
Siapapun yang sedang membicarakan pariwisata di Indonesia, panorama alamnya merupakan salah satu yang terindah di dunia. Alam Indonesia sangat beragam, sangat kaya. Namun kenapa kekayaan tersebut tidak bisa membuat kaya rakyatnya?
Maka perempuan yang pernah menjadi utusan pariwisata Indoensia ini memberikan pandangannya. Menurut Cut Nadirasari, dalam keadaan yang sekarang ini, Bali dan Bangka-lah yang paling siap untuk menyejahterakan rakyatnya lewat pariwisata.
“Masyarakat Bali dan Bangka telah teredukasi dengan baik dan kebijakan pemerintah daerahnyapun juga sangat mendukung diciptakannya iklim pariwisata. Masyarakat yang sadar pariwisata itu semestinya memiliki hospitality yang tinggi. Di Bali misalnya, tukang parkir aja membukakan pintu mobil. Masyarakat diuntungkan dengan adanya pariwisata, dan mereka sadar, sehingga meperlakukan peloncong sepeperti raja,” kata Cut, dengan sungguh-sungguh yang tercermin dari matanya yang besar dan indah.
Tetapi kenapa pariwisata Indonesia belum bisa menjadi penyumbang terbesar pendapatan Negara?
“PR-ing dan Marketingnya kurang. Bahkan sangat kurang. Ini salah satu contoh saja. London adalah salah satu pusat dunia dimana mata dunia melihat ke situ. Orang terkaya di dunia juga ada di London. Betapa terkejutnya saya ketika pada tahun 2009 saya berkunjung ke sana Malaysia memasang baner promosinya di mana-mana. Di bus, di taksi, di Jubilee line, di tunnel di semua tempat-tempat umum di seluruh London,” katanya dengan penuh keprihatinan.
“Saya cukup prihatin ketika harus mendengar bahwa hanya ada sedikit biaya untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Padahal promosi itu memang butuh biaya besar. Dan tidak mungkin pariwisata Indonesia akan berkembang dengan cepat tanpa promosi,” sambungnya.

Kemudian pembicaraan berlanjut pada keragaman budaya Indonesia yang menurut calon pengusaha klinik kecantikan ini sangat luar biasa. Cut mengutip sebuah pepatah ‘Once you see Europe, you seen them all’
“Saya setuju dengan pepatah tersebut. Tetapi Asia berbeda, lho. Antara Thailand, Malaysia, Burma, dan Indonesia sangat berbeda. Wisatawan yang berkunjung ke Thailand tidak akan melihat kebudayaan yang sama ketika berkenjung ke Indonesia,” katanya.
Dibandingkan negara-negara tetangganya Indonesia masih ketinggalan dalam bidang pariwisata. Walaupun kebudayaan dan daya tarik alamnya bernilai tinggi tapi hampir tidak ada kebijakan yang mendukung. Sementara negara-negara tetangga, dukungan besar dan inisiatif justru datang dari pemerintah.
Tidak bermaksud membandingkan namun realitasnya, pariwisata masih digarap oleh orang-orang yang peduli saja. Seperti El Jhon yang semua bisnis usahanya di bidang pariwisata termasuk menyelenggarakan Pemilihan Putri Pariwisata. Di El Jhon pulalah Cut juga masih merasa dekat walaupun sudah tidak lagi menjadi Putri Pariwisata.
Untuk menjadikan negeri ini benar-benar surga pariwisata memang diperlukan kerja besar. Kesungguhan. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat harus terjadi.
“Edukasi masyarakat saja tidak cukup. Membangun infrastruktur saja juga akan sia-sia. Demi pariwisata Indonesia, semua harus berjalan bersama,” katanya tegas, namun anggun.